Home / berita umum / JAD Di Bekukan Jamaah Di Rangkul

JAD Di Bekukan Jamaah Di Rangkul

JAD Di Bekukan Jamaah Di Rangkul – Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan sudah menjatuhkan vonis pembekuan pada organisasi Jamaah Ansharud Daulah (JAD). Hakim menjelaskan JAD menjadi korporasi yang mewadahi tindakan terorisme. Tetapi Pemerintah dapat merangkul partisan serta eks anggota dalam program deradikalisasi.

” Menjelaskan terdakwa Jamaah Ansharud Daulah atau JAD bisa dibuktikan dengan cara resmi serta memberikan keyakinan bersalah, mengambil keputusan serta membekukan organisasi JAD berafiliasi dengan ISIS (Islamic State in lraq and Syria) atau DAESH (Al-Dawla Ill-Sham) atau ISIL (Islamic State of Iraq and levant) atau IS (Islamic State) serta menjelaskan menjadi korporasi yang terlarang, ” demikian bunyi amar putusan yang dibacakan hakim ketua, Aris Bawono, Selasa (31/7).

Hakim yakini menjadi korporasi, JAD bertanggung-jawab atas tindakan teror anggotanya. JAD juga dinyatakan menyebar teror dengan menyebabkan ketakutan serta keresahan di warga.

” Hakim sama pendapat dengan Jaksa Penuntut Umum jika pembuat korporasi tak usah kerjakan itu dengan cara fisik namun kali saja dibikin anggotanya asal saja masih pula dalam lingkup korporasi, perbuatan yang dijalankan anggota-anggota khusus saat itu anggota korporasi dipandang kerjakan atas nama korporasi, ” demikian pertimbangan hakim.

Sehubungan hal yang memberatkan, hakim menyebutkan JAD adalah korporasi yang menyebabkan ketakutan serta keresahan warga banyak. Tdk ada hal yang membantu buat JAD.

JAD dijaring dalam Klausal 17 ayat 1 serta ayat 2 Jo Klausal 6 Ketentuan Pemerintah Substitusi UU No 1 Tahun 2002 Perihal Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme seperti sudah diputuskan jadi UU RI No 5 Tahun 2003.

Menurut majelis hakim, JAD dibuat oleh Aman Abdurrahman dengan kata lain Oman pada Oktober 2014 saat menyebut pengikutnya, ialah Marwan dengan kata lain Abu Musa serta Zainal Anshori, ke Lapas Nusakambangan. Di lapas itu, Aman memerintah Marwan membuat sama dengan organisasi yang mewadahi beberapa orang sepemikiran manhaj daulah islamiyah.

Terbentuklah JAD dibawah kepemimpinan Abu Musa serta Zainal Anshori menjadi Amirul Jawa Timur, sampai Abu Musa pergi buat berjihad ke Suriah. Seterusnya Abu Musa –sebagaimana dibacakan hakim–menunjuk Zainal Anshori jadi pimpinan pusat JAD buat menggantikannya.

Di tiap-tiap tausyiah serta acaranya, JAD gunakan kitab Komaroh yang ditulis oleh Dewan Fatwa Islamiyah JAD. Kitab itu diambil dari internet lantas diprint. Dari kitab ini satu diantaranya yang memberi dukungan Zainal Anshori sebagai ketua pusat terpacu buat kerjakan tindakan teror di sejumlah tempat.

JAD dimaksud mesti bertanggung-jawab atas beberapa tindakan kekerasan yang berlangsung di tanah air. Diantara ialah momen Bom Thamrin di Jakarta pada 14 Januari 2016 ; serangan bom molotov di muka Gereja Oikumene Samarinda, Kal-tim pada 13 November 2016 ; penyerangan yang menewaskan anggota polisi di Polda Sumatera Utara pada 25 Juni 2017 ; penembakan pada anggota polisi di Bima, NTB, pada 11 September 2017 ; ledakan bom panci di Cicendo, Bandung, pada 27 Februari 2017 ; serta bom bunuh diri di Terminal Bus TransJakarta Kampung Melayu, Jakarta Timur, 24 Mei 2017.

Polisi menyongsong baik putusan itu. Dengan pembekuan itu, Polri mengatakan semakin lebih simpel mobilisasi pekerjaan pemberantasan terorisme.

” Dibubarkannya JAD ini dapat mempermudah Polri kerjakan pengusutan ke depan (pada) orang atau grup terafiliasi dengan JAD. Sesuai Undang-Undang Nomer 5/2018 dapat ditindak dengan cara hukum. Ini lebih mempermudah Polri kerjakan pemberantasan tindak pidana terorisme, ” kata Kadiv Humas Polri, Irjen (Pol) Setyo Wasisto.

Support serta animo juga dikasihkan oleh Tubuh Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang menilainya pembekuan JAD udah pas. Karena, sampai kini aktivitas JAD dipandang mencurigakan serta mewadahi grup radikal.

Tetapi, menurut Kasubdit Pemberdayaan Warga BNPT, Andi Intang Dulung, walau JAD udah dibekukan bukan bermakna faham radikal bekas anggota ataupun partisan JAD pupus. Ideologi radikal bekas anggota ataupun partisan JAD masihlah senantiasa menantang.

Lantaran itu, BNPT sudah menyediakan program deradikalisasi, antara lainnya dapat menggandeng bekas anggota atau partisan JAD yang menyebar di dalam warga.

” Pendekatan itu benar-benar terpenting, bukan pendekatan hard approach, namun soft yang perlu kita melakukan pada yang mengenai dengan memberikannya pendekatan pada simpul-simpul tokoh-tokohnya, ” kata Andi di Yogyakarta, Kamis (2/8) tempo hari.

” Ada sich datanya (bekas anggota JAD). Namun saya tdk dapat memastikan angka disini, yang pasti saat ada (organisasinya) bermakna ada datanya, ” lanjutnya.

Tetapi perang menantang tindakan terorisme tidak berhenti disana. BNPT juga mengintimidasi dapat mengupayakan membubarkan Jamaah Ansharul Khilafah (JAK) yang disebut-sebut mewadahi beberapa aktor kekerasan.

Andi memaparkan, maksud JAD hampir sama juga dengan JAK ialah mau menumbangkan pemerintahan yang resmi di NKRI.

” Secara prinsip itu mereka pengen meruntuhkan saja bangsa ini, ” tegas Andi. ” (JAD serta JAK) miliki jaringan semua, ” lanjutnya.

Awal mulanya, Kapolri, Jenderal (Pol) Tito Karnavian menyebutkan tiga tersangka teroris yang ditembak mati di Sleman, DI Yogyakarta, pada Sabtu (14/7) terus ialah anggota JAK. Sesaat JAK dimaksud Tito juga memberi dukungan aktivitas JAD.

About admin